Catatan Kecilku

Perjalanan mencari Ilmu sungguh Indah

Semua Tentang CINTA

SEMUA TENTANG CINTA

Oleh: Abdullah Sholeh Hadrami

Cinta adalah Fitrah

Rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa karena cinta adalah merupakan fitrah, naluriah dan sunnatullah. Cinta adalah satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi di kalangan remaja, karena sudah menjadi anggapan umum bahwa cinta identik dengan ungkapan rasa sepasang sejoli yang dimabuk asmara. Ada yang mengatakan cinta itu suci, cinta itu agung, cinta itu indah dan saking indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan dll. Bahkan saking indahnya cinta, setan pun berubah menjadi bidadari. Yang jelas karena cinta, banyak orang yang merasa bahagia namun sebaliknya karena cinta banyak pula orang yang dibuat tersiksa dan merana. Cinta dapat membuat seseorang menjadi sangat mulia, dan cinta pula yang menjadikan seseorang menjadi sangat tercela.

Cinta adalah topik terindah dalam pembicaraan remaja. Cinta memberi warna dalam setiap tindak tanduk dan pemikiran, khususnya remaja, dan lebih khusus lagi adalah wanita, sebagaimana dikatakan seorang pujangga, “Hati wanita hanya mengenal satu kegembiraan di atas dunia ini, yaitu mencinta dan dicinta.”

Remaja tidak mungkin dipaksa menanggalkan rasa cinta. Ia hadir, terasa dan yang membuat hidup menjadi indah, itulah cinta. Tanpa cinta hidup ini terasa hampa dan kurang bersemangat.

Cinta yang Salah

Namun,  cinta juga berakibat fatal apabila kita salah dalam mempraktekkannya dengan mengedepankan syahwat dan hawa nafsu, karena nafsu tidak akan pernah ada puasnya sampai kapanpun. Seseorang yang terperangkap dalam cinta syahwat dan hawa nafsu akan selalu tersiksa dan bahkan menjadi budak setan dan hawa nafsunya sendiri yang semestinya dia menjadi hamba Allah Ta’ala.

Diantara contoh cinta yang salah adalah yang dikenal dengan istilah pacaran. Islam tidak mengenal istilah pacaran dan proses pernikahan tidak boleh didahului dengan pacaran. Pacaran bukanlah ukuran untuk menilai seseorang karena pacaran penuh dengan kepalsuan dan kebohongan. Apalagi kalau sampai pacaran itu berbuah pergaulan bebas dan perzinahan.

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita semua, amien.

Diantara Penyebab Cinta yang Salah

Penyebab utama terjadinya cinta yang salah ini adalah karena Fudlulu An-Nadhor (banyak memandang)maksud dari pada banyak memandang adalah melepaskan  pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata dan memandang kepada apa yang tidak halal untuk di pandang.

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.”

(Q.S.An-Nur:30-31)

Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Telah di tetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memukul (meraba), kaki zinanya adalah melangkah, hati berkeinginan dan berangan-angan, dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu adalah kemaluan.”

(HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)

Dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja), Beliau menjawab: “Alihkan pandanganmu.”

(HR.Muslim, At-Tirmidzi, Ad-Darimy dan Ahmad)

Bahaya Fudlulu An-Nadhor (Banyak Memandang)

Berlebihan memandang dengan mata menimbulkan anggapan indah apa yang dipandang dan bertautnya hati yang memandang kepadanya. Selanjutnya terlahirlah berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya. Diantaranya:

Pertama, pandangan adalah anak panah beracun diantara anak  panah iblis, barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah Ta’ala, Dia akan berikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya yang ia rasakan sampai bertemu denganNya.

Kedua, masuknya setan ketika seseorang memandang. Sesungguhnya masuknya setan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruangan hampa. Setan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati. Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu, ia nyalakan api syahwat dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa adanya gambaran wujud yang dipandangnya.

Ketiga, pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa akan hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya. Akhirnya, urusannyapun menjadi kacau, ia selalu lalai dan mengikuti hawa nafsunya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya kacau- balau.”(Q.S.Al-Kahfi: 28). Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas mengakibatkan tiga bencana ini.

Dari Mata Turun Ke Hati

Para dokter hati (ulama) bertutur, “Antara mata dan hati ada kaitan yang sangat erat, bila mata telah rusak dan buruk, maka hatipun rusak dan buruk. Hati seperti ini ibarat tempat sampah yang berisikan segala najis, kotoran dan sisa-sisa yang menjijikkan. Ia tidak layak dihuni cinta dan ma’rifatullah, tidak akan merasa tenang dan damai bersama Allah Ta’ala dan tidak akan mau Inabah(kembali) kepada Allah Ta’ala. Yang tinggal di dalamnya adalah kebalikan dari semua itu.”

Membiarkan pandangan lepas adalah maksiat kepada Allah Ta’ala dan dosa sebagaimana firmanNya pada An-Nur 30 dan 31 yang telah disebutkan.

Allah Ta’ala berfirman: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”. (QS. Ghafir / Al-Mukmin: 19).

Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan hati bercahaya. Bila hati telah bersinar maka seluruh kebaikan akan masuk kedalamnya dari segala penjuru, sebaliknya apabila hati telah gelap maka akan masuk kedalamnya berbagai keburukan dan bencana dari segala penjuru.

Seorang yang shalih berkata, ”Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan muroqobah (merasa diawasi Allah Ta’ala), menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya) dan hanya memakan yang halal, pasti firasatnya tidak akan meleset.”

Macam-Macam Cinta:

1. Mahabbatullah (Cinta Allah).

Cinta macam ini saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang dari api neraka dan memasukkannya kedalam surga karena orang-orang musyrik juga mencintai Allah.

2. Mencintai Apa Yang Dicintai Allah.

Cinta macam inilah yang memasukkan seseorang kedalam Islam dan mengeluarkannya dari kekafiran, dan orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang kuat dalam cinta ini.

3. Cinta Karena Allah dan Untuk Allah.

Cinta ini adalah wajib seperti mencintai para kekasih Allah dan membenci musuh-musuhNya, cinta ini adalah penyempurna dan konsekuensi cinta Allah.

4. Cinta Yang Lain Bersama Allah.

Cinta ini adalah cinta syirik yaitu cinta kepada selain Allah yang menjadikan seseorang takut, mengagungkan dan memuliakan yang semua ini semestinya hanya layak untuk Allah semata. Atau mencintai selain Allah seperti mencintai Allah bahkan melebihinya.

5. Cinta biasa.

Yaitu cinta manusia terhadap apa-apa yang di sukainya dan merupakan tabi’atnya, seperti cinta harta, anak, isteri dll. Cinta macam ini tidak tercela kecuali apabila menjadikan seseorang lalai dan tersibukkan olehnya daripada ketaatan kepada Allah.

Cinta yang Benar

Terus bagaimana cinta yang benar, yang mendatangkan kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman?

Allah Ta’ala berfirman:

Katakanlah: “jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

(QS. At-Taubah: 24).

 

Cinta Allah Ta’ala dan RasulNya –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam serta Berjihad di JalanNya:

Katakanlah: Jika bapak-bapakmu (termasuk ibu-ibumu), anak-anak, saudara-saudara senasab, isteri-isteri, kaum keluargamu (yaitu keluarga secara umum), harta kekayaan yang kamu usahakan yang kamu rela untuk susah payah dalam mendapatkannya (disebutkan secara khusus karena ini adalah yang paling dicintai oleh pemiliknya dan dia sangat tamak atasnya berbeda dengan orang yang mendapatkan harta tanpa susah payah), perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya (dan ini mencakup seluruh perniagaan dan usaha dagang) dan tempat tinggal yang kamu sukai karena kemewahan dan keindahannya serta sesuai dengan selera yang kamu inginkan.

Apabila hal-hal tersebut diatas lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari jihad di jalanNya maka kamu adalah orang-orang yang dzalim lagi fasik. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan hukumanNya kepadamu yang tiada seorangpun mampu menolak keputusanNya.

“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”, yaitu orang-orang keluar dari ketaatan kepada Allah dan mendahulukan cinta kepada yang lain daripada cinta kepada Allah.

Ayat ini adalah dalil terbesar atas kewajiban mencintai Allah dan RasulNya serta mendahulukan cinta kepada keduanya diatas segala sesuatu.

Dan ancaman yang keras serta kemurkaan yang pasti terhadap siapa saja yang lebih mencintai hal-hal yang telah disebutkan daripada cinta kepada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya.

Tanda atau Bukti Cinta Allah Ta’ala dan Cinta RasulNya –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam:

Apabila kita dihadapkan pada dua perkara, yang satu dicintai Allah dan RasulNya dan diri kita tidak mempunyai keinginginan terhadapnya dan perkara yang lain diri kita menginginkan  dan menyukainya akan tetapi menyebabkan kita kehilangan perkara yang dicintai Allah dan RasulNya atau menguranginya. Jika kita mendahulukan perkara yang diinginkan oleh diri kita atas perkara yang dicintai Allah maka ini adalah bukti kita berlaku dzalim, meninggalkan apa yang wajib atas kita.

Bagaimanakah Mencintai Allah Ta’ala?

Mencintai Allah adalah patuh dan tunduk dengan mengagungkan, memuliakan, takut dan mengharapkan.

Termasuk cinta kepada Allah adalah mencintai tempat-tempat yang dicintai Allah, seperti: Makkah, Madinah dan masjid-masjid pada umumnya.

Juga mencintai waktu-waktu yang dicintai Allah, seperti: Bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, penghujung malam dll.

Mencintai orang-orang yang dicintai Allah, seperti: Para nabi dan rasul, para malaikat, shiddiqin, syuhada dan shalihin.

Mencintai perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah, seperti: Shalat, zakat, shaum (puasa), haji, dan ucapan-ucapan, seperti: Dzikir, membaca Al-Qur’an dll.

Termasuk cinta kepada Allah pula adalah mendahulukan apa yang dicintai Allah  daripada kesenangan, syahwat dan keingininan diri sendiri.

Termasuk cinta kepada Allah adalah membenci apa dan siapa yang dibenci Allah, yaitu dengan membenci orang-orang kafir, munafik, fasik dan para pelaku maksiat. Kita wajib baraa’ dan berlepas diri dari mereka, karena termasuk pembatal cinta ini adalah sikap walaa’ (loyal dan cinta) kepada mereka.

Diantara yang menafikan cinta ini adalah membenci Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam atau sebagian dari ajarannya, membenci orang-orang mukmin dll.

Diantara Dalil-Dalil Al-Mahabbah (Cinta):

Allah Ta’ala berfirman: 

 “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. 2 Al-Baqarah: 165)

 

 “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. 5 Al-Maa’idah: 54).

Dari Anas Radhiallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:

“Ada tiga perkara yang barang siapa ketiga perkara itu ada padanya pasti merasakan manisnya iman: Hendaklah Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari yang selain keduanya, hendaklah mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya melainkan karena Allah dan hendaklah ia membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari padanya sebagaimana ia membenci (tidak mau) apabila dimasukkan ke dalam api.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Zuhrah bin Ma’bad dari kakeknya berkata: Kami bersama Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan tangan beliau memegang tangan Umar ibnul Khaththab, lalu berkata (Umar): “Demi Allah! Sungguh engkau wahai Rasulullah lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku.”

Lalu bersabda Rasulullah–Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam : “Tidak beriman seorang dari kamu sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya.”

Berkata Umar: “Demi Allah! Engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku.”

Bersabda Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Sekarang, wahai Umar.”

(HR. Imam Ahmad dan Bukhari).

Dari Ibnu Umar berkata: Aku telah mendengar Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Apabila kamu telah berjual beli dengan cara ‘inah, memegang ekor-ekor sapi dan puas dengan bercocok tanam serta kamu tinggalkan jihad, pasti Allah akan timpakan kepadamu kehinaan yang tidak akan dicabutnya dari kamu sehingga kamu kembali kepada agamamu.”

(HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad sahih).

Yang dimasud dengan bai’ul ‘inah (jual beli dengan cara ‘inah) adalah menjual barang dengan harga dan tempo yang telah ditentukan kemudian sebelum jatuh tempo barang tersebut dibeli kembali oleh sang penjual dengan harga yang lebih murah agar pembeli barang pertama mendapat uang kontan akan tetapi dia masih mempunyai tanggungan. Dinamakan ‘inah dari kata ‘ain yaitu untuk mendapatkan ‘ain atau uang kontan. Ini adalah salah satu macam riba.

Yang dimaksud dengan memegang ekor-ekor sapi dan puas dengan bercocok tanam adalah sibuk dengan bercocok tanam, berkebun, mengumpulkan harta dan urusan dunia lainnya sehingga melupakan urusan agama.

Sepuluh Resep Menggapai Cinta Allah Ta’ala: 

Cintailah Allah dan berusahalah untuk menggapai cintaNya. Inilah beberapa resep yang menyebabkan seseorang mencintai Allah:

–          Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan memahaminya dengan baik.

–          Mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat sunat sesudah shalat wajib.

–          Selalu dzikirullah (mengingat Allah) dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.

–          Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.

–          Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan memahami maknanya.

–          Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita.

–          Menundukkan hati dan diri ke haribaan Allah.

–          Menyendiri untuk beribadah kepada Allah, bermunajat dan membaca kitab suciNya di waktu malam saat orang lelap tidur.

–          Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang shaleh, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.

–          Menjauhkan sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah.

Makanya, buruan meraih cinta yang benar sebelum terlambat, cinta Allah Ta’ala, cinta RasulNya –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan cinta berjihad di jalan Allah Ta’ala, cinta yang mendatangkan kebahagiaan, kedamaian dan ketenteraman abadi di dunia dan di akhirat.

—————————————————————————————-

(Makalah disampaikan dalam “Kajian Islam Tematik” yang diselenggarakan oleh Bidang Pembinaan Rutin Lembaga Kerohanian Islam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Senin 29 Sya’ban 1426 H / 3 Oktober 2005 M)

sumber

One response to “Semua Tentang CINTA

  1. Pingback: Apa anda pernah ketemu Setan? Cerita dong…!!!? | Indonesia Search Engine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: