Catatan Kecilku

Perjalanan mencari Ilmu sungguh Indah

Jayagiri – JAlan jalan YA Ga harus bikin RIsi(kantong) | Wisata Alam Bandung

20 Januari 2013

Jayagiri, terletak di daerah lembang, utara kota bandung, jawa barat. Alternatif liburan untuk wisata alam dengan harga yang murah, cuma Rp.5000 untuk tiket masuk ke kawasan ini(belum termasuk ongkos parkir, jajanan, bandrek :p ).

Untuk bisa mencapai kawasan ini diperlukan perjalanan selama 20 menit dari setiabudhi, Bandung. Tak banyak wisatawan yang saya temui berkunjung ke tempat ini, tapi bagi para pecinta alam, penikmat keindahan, penghirup udara segar tempat ini sangat cocok untuk disinggahi.

Pada kesempatan kali ini, saya dan teman saya berkunjung ke kawasan ini hanya sekedar olah raga, olah tubuh, dan refreshing dari kebisingan, polusi, kemacetan kota bandung yang kian hari makin menyusul ibu kota negara. Seperti pada perjalanan mendaki lainnya, hanya barang yang sangat amat penting saja yang dibawa untuk menemani pendakian. Jikalau hendak camping atau menginap di puncak gunung ini, ada juga spot-spot landai yang cocok untuk tenda.

Perjalanan dimulai jam 07.00 dari setiabudhi, bandung menggunakan kendaraan roda dua alias motor. Pilihan ini diambil karena untuk angkutan umum, tidak ada yang mengantarkan hingga gerbang Jayagiri, jadi klo mau naek angkot mending siapkan kalori lebih untuk jalan kaki dari jalan raya lembang menuju gerbang jayagiri.

Setelah sampai di depan gerbang, dengan terpaksa kami harus merelakan motor ditinggal di tempat parkir(duh kasihan..). Namun itu tak masalah, namanya juga mau olah raga. Lagi pula, motor itu bukan type trail yang bisa naek. Dari pengamatan kami di jalan, ternyata kawasan jayagiri ini juga sering dijelajahi oleh pengendara motor off road tersebut teman-teman(gaya si unyil). Banyak track yang bisa digunakan dan terlihat ada jejak dari ban motor di beberapa jalanan yang kami lewati. Lupa lihat jam, kemungkinan sampai di gerbang jam 07.30.

Perjalanan mendaki dimulai dari gerbang, diiringi dengan beberapa ‘kafe sederhana’ untuk mengisi energi atau menghangatkan badan. Tiris Euy!!

Naik-naik ke jayagiri, tinggi-tinggi sekali…
Kiri Kanan kulihat saja, tak ada pohon cemara…

Right, disini pohon yang banyak menghuni adalah jenis (apa ya?). Pokoknya gak ada pohon durian, strawbery, blackberry apalagi pohon uang. Sayang sekali.

Pohon, tak tahu namanya, itu mengeluarkan getah yang wangi, diambil getahnya seperti karet. Kata temanku, yang sama-sama awam tentang perpohonan, ini bukan karet. Yasudahlah, biarkan ini berjalan seperti ini saja.

Sepanjang perjalanan, hampir tak ku jumpai mamalia yang berjalan dengan dua kaki(manusia), disini sepi. Tapi akhirnya kita bertemu dengan beberapa penduduk sekitar yang sedang naik gunung juga(koq gini banget tulisannya -_-” ). Saling sapa bukan cuma nama jejaring sosial buatan anak smp yang booming itu, tapi itu ciri khas dari warga tataran sunda. kemudian… guk.guk.guk. Eh ada si *njing. Ini beneran anjing koq, bukan sebutan sebagian remaja alay bandung ketika memanggil kawan dekatnya. Dalam hati hanya ada rasa, yang tak dapat kutuliskan(kalau bulan bisa ngomong, doel soembang). Saya takut gogog(nama lain dari anjing, yang tak dipakai oleh remaja alay bandung ketika memanggil temannya). Dari sebuah acara tipi, saya tahu bahwa jika berhadapan dengan gogog, maka jangan tatap matanya. bukan karena khawatir hipnotis. tapi memang begitulah adanya.(lupa penjelasan ilmiahnya, maklum dah lama ga ketemu tipi).

08.30 -an kami sampai di puncak gunungnya, saya sendiri gak yakin mana puncaknya. Pokoknya itu spot tertinggi yang ada disana. ini buktinya:

jayagiri-wide-view

Jayagiri wide view

Setelah sampai puncak… yaudah. hore!!! itulah rasa yang ada dalam dada setiap kali naik gunung. Seperti itu pula kehidupan ini, kesuksesan itu akan ber-rasa ketika telah dijalani hingga akhir. Diatas ternyata sudah ada beberapa tenda yang terlihat sudah camping dari kemarin2. lihat saja rambutnya gondrong gitu…

Jalan-jalan di gunung tanpa penunjuk jalan, adalah cara paling cepat untuk tersesat dan itulah yang kami alami. Ambil jalan ini, lewat jalan itu sampe akhirnya tidak tahu dimana akhirnya dan tidak tahu dimana posisi kita berada. Dengan berbekal android, GPS mode:on, yang nampak hanya segaris kecil yang membelah gunung ini, mungkin itu jalan pikirku, tapi ternyata tak ada apa-apa, garis itu sepertinya adalah aliran sungai. -_-”

Reverse way, mudah2an masih ingat jalan yang tadi dilalui. dan ternyata sarapan pagi tadi tidak sia-sia, masih tersisa kalori untuk menyimpan informasi mengenai jalan yang tadi dilalui. Alhamdulillah… setelah itu kami istirahat, ngobrol ngobral, ngalor ngidul, tentang bisnis, proyek, hikmah, dll. Sampe akhirnya sangat terasa terik matahari sudah membasahi tubuhku, ternyata di balik pepohonan itu panas, tapi klo berteduh sejuk sekali.

Kami turun gunung dan bertemu sekumpulan makhluk yang tak asing, barudak a.k.a anak-anak:
barudak-jayagiriYa, mereka riang gembira, lari sana, jatuh, tertawa, lari lagi. Seolah tak ada kekhawatiran besok mau ujian sidang, atau ketemu klien projek puluhan juta. life is so simple.

Sebelum pulang sempat ngobrol dengan para calon marketer(disebut seperti itu karena mereka sok akrab gitu sama kami). Sisa perbekalan yang ada kami bagikan kepada mereka, bukan karena kasihan, hanya berbagi kebahagiaan.

barudak-narsis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: